Hasil Otopsi Siyono Keluar, Kedzaliman Densus & Petingginya Mulai Terkuak

03.17.00

Mediagaul/Hitspedia - Komisioner Komnas HAM, Siane Indriyani, menegaskan bahwa tidak ditemukan adanya tanda-tanda perlawanan dari hasil autopsi jasad Siyono (34), yang tewas bulan lalu setelah dijemput Densus 88. Ditemukan banyak luka memar dan patah tulang di jasad bapak yang meninggalkan lima anak tersebut.
“Tidak ada perlawanan. Tidak ada luka yang akibat defensif,” kata Siane menjelaskan laporan hasil autopsi tubuh Siyono di kantor pusat Komnas HAM di Jl. Latuharhari Sh No.4B, Menteng, Jakpus, Senin siang (11/04).
Siane didampingi tim dokter forensik Muhammadiyah yang melakukan autopsi jasad Siyono, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, serta perwakilan sejumlah LSM diantaranya KontraS, Lingkar Madani (Lima), YLBHI, LBH Jakarta, dan PSHK.
Siane menjelaskan, ditemukan banyak pukulan benda tumpul di beberapa bagian di tubuh Siyono. Di antaranya ada luka bekas pukulan di bagian kepala, dada dan kaki.
Dari luka-luka tersebut, lanjut Siane, yang menyebabkan meninggalnya Siyono luka di dada. Tulang dada korban patah dan mengenai organ dalam.
“Ini yang ke arah jantung, menyebabkan kamatian yang fatal,” jelasnya.
Ketua Tim Dokter Forensik Muhammadiyah, dr. Gatot Soeharto, sebelumnya menjelaskan bahwa temuan-temuan luka di tubuh Siyono menununjukkan bahwa luka-luka tersebut terjadi saat dia masih hidup. Luka-luka tersebut akibat kekerasan dan pukulan benda tumpul.
“Ada temuan-temuan luka yang sifatnya entrafital, yaitu terjadi saat masih hidup dan terjadi akibat kekerasan,” jelas Gatot.
Komisioner Komnas HAM, Siane Indriyani juga menjelaskan bahwa berdasarkan laporan hasil autopsi, Siyono meninggal akibat pukulan benda tumpul di beberapa bagian. Siane membeberkan, ada sejumlah luka di bagian kepala, dada dan kaki.
Di bagian rongga dada, jelasnya, ditemukan patah tulang iga kiri sebanyak lima buah. Sementara di bagian kanan ada satu tulang yang patah keluar. Tulang dada juga ditemukan dalam kondisi patah.
“Ini yang ke arah jantung, menyebabkan kematian yang fatal,” jelasnya di Kantor Komnas HAM Jakarta.
Dia menambahkan, pada bagian tubuh belakang ditemukan luka memar. Hal itu menunjukkan ada tekanan dari depan ke belakang.
Siane membenarkan ada luka di bagian kepala Siyono. Ada sedikit pendarahan, tetapi hasil autopsi menyebutkan bukan itu yang menyebabkan kematiannya.
“Tetapi yang menyebabkan kematian di bagian dada,” tegasnya.
Sebelumnya, dr. Gatot Soeharto selaku Tim Dokter Forensik Muhammadiyah menegaskan bahwa apa yang dilakukannya bersama tim didukung oleh kemampuan dan kewenangan forensik.
“Kami akan menyampaikan secara profesional dan proporsional disertai rambu-rambu yang ada pada profesi kita,” tegasnya.
Hasil autopsi menunjukkan bahwa Siyono mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuhnya. Luka itulah yang menyebabkan kematiannya.
“Ada temuan-temuan luka yang sifatnya intravital, yaitu terjadi saat masih hidup dan terjadi akibat kekerasan,” pungkas Gatot.
Dalam konferenai pers tersebut, hadir Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas dan tim dokter forensik yang melakukan autopsi, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, serta perwakilan sejumlah LSM diantaranya KontraS, Lingkar Madani (Lima), YLBHI, LBH Jakarta, dan PSHK.

Hal itu sekaligus mematahkan pernyataan-pernyataan yang disampaikan pihak kepolisian. Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mencatat bahwa hasil autopsi Siyono membantah pernyataan polisi terkait kematian Siyono. Pertama, autopsi itu membuktikan bahwa keterangan Mabes Polri yang menyatakan telah mengautopsi pria asal Klaten itu adalah tidak benar.
“Autopsi yang dilakukan oleh tim autopsi yang dikepalai oleh dokter Gatot itu adalah yang pertama,” kata Dahnil di Kantor Komnas HAM Jakarta, Senin (11/04).
Sebelumnya Mabes Polri sempat menyatakan bahwa pihaknya telah mengautopsi Siyono. “Jadi tidak betul ada autopsi sebelumnya,” imbuhnya.
Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan juga telah menyatakan bahwa Siyono meninggal karena pendarahan dan luka di kepala akibat benda tumpul. Sedangkan hasil autopsi yang dilakukan oleh tim dokter Muhammadiyah dan disertai oleh dokter forensik Polda Jawa Tengah menunjukkan bahwa luka di dada yang berakibat pendarahan di jantung adalah penyebab kematian pria 34 tahun itu.
Setelah dilakukan autosi, otak Siyono menunjukkan kondisi yang disebut dengan istilah dalam bentuk bubur putih. Tidak dalam bentuk bubur merah. Hal itu menandakan bahwa tidak ada pendarahan berarti di kepala.
“Agak aneh kemudian jika polisi bisa tahu penyebab kematiannya akibat pendarahan di kepala,” ujar Dahnil.
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa hasil autopsi jasad Siyono menunjukkan adanya luka dan patah tulang di bagian dada. Tulang yang patah ke dalam di bagian dada ini yang kemudian menimbulkan pendarahan di jantung, dan menjadi penyebab kematiannya.
Terakhir, tak ada indikasi perlawanan yang dilakukan Siyono terhadap aparat yang mengawalnya. Hal itu terlihat dari hasil autopsi yang tak ada tanda-tanda luka defensif.
“Tidak ada luka tangkis di sini, di bagian-bagian tertentu yang bentuknya perlawanan dari Siyono,” terang Dahnil sambil menunjuk-nunjuk tangan dan beberapa bagian tubuhnya yang lain.

Selain itu pada hari yang sama Komnas HAM akhirnya membuka dua gepok uang sogok yang diberikan polisi kepada keluarga Siyono pada Senin, (11/04). Setelah dibuka uang tersebut ternyata jumlahnya 100 juta.
Di hadapan wartawan, Komnas HAM dan Ketua Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Busyro Muqoddas membuka dua gepok uang sogok yang diserahkan istri Siyono. Pembukaan itu juga disaksikan oleh sejumlah perwakilan LSM yang mendukung Suratmi, istri Siyono, dalam mencari keadilan.
Saat dibuka, masing-masing gepokan berisi lima bundel uang seratus ribuan. Tiap bundel senilai 10 juta rupiah. “Semuanya total 100 juta,” kata Komisioner Komnas HAM Siane Indriyani di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary.
Dua gepok uang itu awalnya diserahkan keluarga Siyono kepada PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Selasa (29/03). Selanjutnya uang itu disimpan oleh pihak Muhammadiyah yang kemudian menjadi kuasa hukum Suratmi.
“Uang ini diberikan ketika istri Siyono dijemput untuk membesuk Siyono,” terang Siane.
Siane menambahkan bahwa saat dijemput Suratmi berangkat ditemani kakak Siyono, Wagiyono. Sesampainya di Jakarta keduanya diberitahu bahwa Siyono telah meninggal.
Akhirnya, masing-masing diberi satu gepok uang. Polisi yang memberikan uang ke Suratmi saat itu mengatakan bahwa uang itu diberikan untuk membiayai anak-anaknya.
“Dan Wagiyono mendapatkan satu gepok itu untuk biaya pemakaman,” lanjut Siane.
Komnas HAM bersama PP Muhammadiyah dan sejumlah LSM yang mendukung Suratmi mencari keadilan masih akan bermusyawarah perihal uang tersebut.
Sumber : Kiblat

Share this

Media informasi yang menyuguhkan pernik kehidupan anak muda. Mengikuti perkembangan zaman tapi jangan lupa arahan yang benar,,,

Related Posts

Previous
Next Post »